Jangan Mencela Saudaramu yang Terjerumus dalam Kesalahan , Dosa, dan Maksiat

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “…bahwa (dosa) engkau mencela saudaramu karena melakukan suatu dosa (bisa jadi) lebih besar dan lebih parah daripada dosa saudaramu itu karena dalam celaanmu itu terdapat perasaan takjub terhadap ketaatan(mu), mensucikan diri, membanggakan, menyebut-nyebutnya, dan mengklaim (dirimu) bersih dari dosa itu (dengan sombong), sementara (disisi lain, engkau merendahkan) saudaramu itu terjatuh kedalamnya” (Madarijus Salikin,Ibnul Qoyyim 1/195)

Continue reading

Advertisements

Andai Hati Itu Bersih

img-20141229-wa0022

Saudaraku,

Utsman bin Affan Radiallahu anhu pernah mengatakan, “Sendainya hati kalian itu bersih, maka kalian tidak akan pernah puas dengan firman Allah”.

Andai hati itu bersih..

Maka ia akan betah berlama-lama dengan Al-Qur’an.

Andai hati itu bersih..

Maka ia adalah orang yang paling bersemangat dan terdepan dalam mengerjakan kebaikan.

Andai hati itu bersih..

Maka mudah baginya memahami ilmu.

Andai hati itu bersih..

Maka mudah baginya menangkap dan menggali hikmah

Andai hati itu bersih..

Maka lisannya  terjaga dari mencaci, menghina, membuka aib sesama muslim. Continue reading

Ketika Hati Ternoda oleh Maksiat

9786020894140

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

(HR. At-Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, dan Ahmad (II/297). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Saudaraku, maksiat dan dosa menimbulkan pengaruh yang buruk bagi hati. Ia laksana noda hitam yang mengotori kain putih, bahkan pengaruhnya lebih dahsyat dari itu, ia bisa menyebabkan hati mati sehingga ia tidak mengenal Allah dan tidak mengetahui jalan kebenaran.

Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata: “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.” (Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah XV/283). Continue reading

Tiada Hari Tanpa Membaca Al-Qur’an

‘Barangsiapa yang tertidur sebelum menyelesaikan satu Al-Qur’an atau sebagian dari hizb, kemudian ia membacanya antara shalat  Shubuh dan shalat zhuhur, maka ditulis baginya (pahala) sebagaimana pahala saat membacanya di malam hari.” .” (HR. At Tirmidzi, Abu ‘Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih)

 

Saudaraku,

Jika kita renungkan sabda Rasulullah diatas, menunjukkan semangat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang tidak boleh terlewatkan oleh kondisi apapun yang merintangi serta kendala apapun yang menghadang. Ciri khas mereka adalah membaca Al-Qur’an dalam shalat malam, terutama shalat malam. Mereka banyak sekali membacanya pada waktu malam. Ada target-target tilawah yang harus mereka selesaikan setiap malamnya (hizb). Jika mereka terhalang membacanya diwaktu malam, maka mereka menggantinya pada pagi hari. Betapa para pendahulu kita, dari nabi Muhammaad SAW dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan benar interaksinya dengan Al-Qur’an begitu akrab dan membaca Al-Qur’an bagi mereka menjadi suatu amalan yang tidak pernah diabaikan baik dalam kondisi menetap (muqim), dalam perjalanan (safar), sehat atau dalam kondisi sakit sekalipun. Continue reading

Meski Hanya Sekejap Mata

Saudaraku,

Ada sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang bagaimana kita harus selalu menyandarkan diri kita kepada Allah, memohon bantuan-Nya dan tidak mengandalkan diri kita walau hanya barang sesaat;

“Ya Allah, rahmat-Mu lah yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri, sekejap mata pun (tharfata ‘ain). Perbaikilah semua keadaanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau”. (HR. Abu Daud)

Cobalah perhatikan untaian doa  Rasululullah tersebut, bagaimana Rasulullah yang maksum, namun beliau tetap memohon kepada Allah dengan kesungguhan, agar Allah tidak membiarkannya sendirian menjalani hidup. Begitu kuat permintaan Rasulullah agar Allah tidak membiarkannya hanyut oleh keinginan nafsu, meski hanya sekejap mata. Ya, meski sekejap mata saudaraku! Continue reading

Jika Hidupmu Begitu Berharga, Mengapa Malas?

Untukmu wahai jiwa yang malas,

Betapa ruginya dirimu ,jika engkau memperturutkan rasa malas yang menggelayut dalam jiwamu.

Orang lain telah mendahuluimu dengan amal, keutamaan, cita-cita, serta prestasi hidup.

Sementara dirimu masih tertidur, belum berbuat apa-apa dan tertinggal. 

Orang lain telah menghafal puluhan juz, bahkan hafal 30 juz, sementara dirimu juz 30 pun tak hafal-hafal dari dulu sampai sekarang

Orang lain telah mendahuluimu berpagi-pagi menjemput rezeki, sementara dirimu masih nyaman dalam hangatnya selimut.

Orang lain telah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, sementara engkau belum mengumpulkan apa-apa. Continue reading

Sedikit Tapi Usahakan Rutin

“Amalan yang paling dicintai Alloh Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.”

 (HR Muslim: 783)

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.

[ HR. Muslim no. 782]

 

Saudaraku,

Sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah tetesan demi tetesan akan membentuk sebuah aliran air yang deras. Gunung yang besar terdiri dari kumpulan batu, tanah dan kerikil yang kecil. Selembar kain yang halus berasal dari seutas benang.

Saudaraku, melakukan amal secara kontinu dan berkesinambungan ibarat membangun benteng diri yang kokoh. Satu-persatu batu bata yang kita susun secara bertahap dan terus-menerus pada akhirnya membentuk suatu bangunan yang megah dan kokoh. Begitu juga segenap amal ibadah, amal shaleh, dan seluruh perbuatan baik yang kita  tekuni terus-menerus akan membentuk keistiqamahan dalam jiwa kita sehingga benteng keimanan kita akan kokoh. Continue reading