Ketika Jiwa Terbelenggu Kemaksiatan

 

caught-1013600_960_7204

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]

 Saudaraku,

yang jiwanya terbelenggu oleh kamaksiatan! Mari sejenak merenungi dan meresapi seruan ini. Seruan ini kupersembahkan untuk setiap jiwa-jiwa yang terbelenggu oleh kamaksiatan, yang ia ingin kembali ke fitrah suci, tapi  apa daya tembok penghalang begitu tebal, tekad begitu lemah,  jiwanya ingin bebas, tapi ia tetap terperangkap dalam gelapnya mmaksiat . Dan jauh dilubuk hatinya ia ingin kembali kepangkuan hidayah!

Saudaraku, bagi jiwa yang dikuasai oleh kemaksiatan!

Sungguh engkau telah rela menukar kesenangan abadi dengan kesenangan sesaat!

Sungguh engkau telah menjual barang terindah dengan harga sangat murah!.

Betapa anehnya engkau, menjual barang termahal dengan harga yang paling rendah. Sungguh engkau benar-benar teperdaya dalam transaksi  jual beli ini.

Sungguh aneh, engkau sudi menjual permata dan miyak wangi dengan kotoran.

 Alangkah mengherankan, Engkau menjual barangan dagangan yang Allah adalah pembelinya, Surga adalah harganya, dan Rasul sebagai perantara dan penjamin dari jual beli. Tetapi  engkau menjualnya dengan  puncak kehinaan dengan bermaksiat kepada-Nya.

 Sungguh engkau telah mencampakkan gelar-gelar kemulian dan mengganti  dengan gelar-gelar tercela dan hina. Continue reading

Advertisements