Tags

, , , , ,

12931241_475564785962995_3293080863243217_n

Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan agar selamat dari maksiat:

1. Anggaplah dosa yang kamu lakukan itu besar
2. Hindari dosa-dosa kecil.
3. Hindari Mujaharrah ( Demonstratif, menceritakan dosa sendiri kepada orang lain)
4.  Ikuti dengan taubat nasuha yang benar.
5. Apabila dosa terulang, ulangilah taubat. jangan pernah bosan untuk taubat.
6. Tinggalkan semua penyebab-penyebab maksiat.
7. Terus-menerus beristighfar setiap waktu.
8. Berjanji kepada Allah untuk meninggalkan maksiat.
9.  Berbuat baik setelah berbuat buruk.
10. Bertauhid yang benar.
11. Jangan tinggalkan orang-orang shaleh
12. Jangan meninggalkan dakwah
13. Jangan mencela orang lain yang berbuat dosa.

(Referensi:  Sabilun najah Min Suumil Ma’shiyati, Muhammad bin Abdullah ad Dawasy)

Kiat-kiat Selamat dari Maksiat

1. Menuntut Ilmu Agama, Terutama Ilmu Tauhid•

  • Karena dengan ilmu, keimanan seorang hamba kepada Allah ta’ala semakin kokoh dan tidak mudah terombang-ambing oleh derasnya syubhat dan syahwat.
  •  Karena dengan ilmu, seorang hamba memahami kiat-kiat yang dapat membantunya untuk menghindari maksiat.
  • Karena dengan ilmu, seorang hamba yang terjerumus dalam dosa mengerti bagaimana cara menyelamatkan diri darinya.
  • Karena dengan ilmu, seorang hamba mengetahui dahsyatnya siksa Allah ‘azza wa jalla untuk orang-orang yang durhaka dan luasnya rahmat Allah untuk orang-orang yang bertakwa.
  •  Karena dengan ilmu, seorang hamba mengetahui berbagai bahaya maksiat, yang pasti akan menghalangi orang yang berakal untuk bermaksiat.
  •  Karena dengan ilmu, seorang hamba mengenal keagungan dan kebesaran Allah tabaraka wa ta’ala, sehingga memunculkan rasa takut kepada-Nya, semakin dalam ilmunya tentang Allah maka semakin kuat pula rasa takutnya kepada Allah ‘azza wa jalla.
  • Dan rasa takut kepada-Nya adalah sebesar-besarnya penghalang di dalam diri seorang hamba untuk berbuat maksiat.
  • Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling takut kepada Allah karena beliau yang paling berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla dan agama-Nya.
  • Para ulama lebih takut kepada Allah karena mereka lebih berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan hukum-hukum-Nya.
  • Sahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

“Bukanlah ilmu dengan banyaknya riwayat, hanyalah ilmu itu rasa takut kepada         Allah.” [Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam: 1401]

2.Beribadah dengan Ikhlas dan Mengikuti Sunnah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Siapa yang nafsunya telah cenderung kepada yang haram, maka hendaklah ia segera beribadah kepada Allah ta’ala dengan cara yang sesuai petunjuk-Nya serta mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada-Nya, karena sungguh itu akan memalingkan keburukan dan kekejian darinya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/636]

• Ikhlas, memurnikan niat ketika beribadah hanya kepada Allah ta’ala adalah sebab diselamatkannya seorang hamba oleh Allah ta’ala dari perbuatan maksiat, sebagaimana Allah ta’ala telah menyelamatkan Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalaam. Allah ta’ala berfirman,

“Demikianlah, agar Kami memalingkan kemungkaran dan kekejian dari Yusuf. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” [Yusuf: 24]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Maknanya: Dengan sebab keikhlasan Yusuf maka Kami palingkan kejelekan darinya. Demikian pula untuk setiap orang yang ikhlas akan dipalingkan dari kejelekan, sebagaimana ditunjukkan oleh keumuman sebab dalam ayat ini (yaitu ikhlas).” [Tafsir As-Sa’di, hal. 202-203]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah juga berkata,.

“Maka tatkala beliau mengikhlaskan amalnya karena Allah, Allah pun mengikhlaskannya dan menyelamatkannya dari kejelekan dan kekejian.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 407]

3.Banyak Berdoa dan Mohon Perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla•

Pada hakikatnya, tidak seorang pun yang mampu melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tanpa pertolongan-Nya, karena makhluk teramat lemah, jika Allah tidak menolongnya maka ia tidak akan mampu beribadah kepada-Nya.

Inilah diantara rahasia besar, mengapa kita selalu membaca “iyyaaka na’budu”, lalu disusul dengan “wa iyyaaka nasta’in”, dalam firman Allah ta’ala,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” [Al-Fatihah: 4]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Dan disebutkan isti’anah (mohon pertolongan) setelah ibadah, padahal isti’anah juga ibadah, sebab seorang hamba membutuhkan pertolongan Allah ta’ala dalam seluruh ibadahnya, karena jika Allah ta’ala tidak menolongnya maka ia tidak akan berhasil dalam mengamalkan ibadah yang ia inginkan, apakah menjalankan perintah atau menjauhi larangan.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 39]

Allah ta’ala juga berfirman,ا

“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya.” [An-Nur: 21]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Maknanya: Tidak ada yang bisa selamat dari mengikuti langkah-langkah setan, karena setan dan bala tentaranya terus berusaha sekuat tenaga untuk mengajak kepadanya dan menghias-hiasinya, ditambah lagi dengan nafsu yang condong dan selalu memerintahkan kepada kejelekan, serta kekurangan yang mendominasi seorang hamba dari semua sisi, iman pun tidak kuat, maka apabila ia dibiarkan bersama semua faktor pendorong kepada maksiat ini, niscaya tidak seorang pun dapat mensucikan diri dari dosa-dosa dan kesalahan, serta bertambah kebaikan dengan melakukan ketaatan –karena bersih (الزكاء) yang disebutkan dalam ini mencakup dua perkara; mensucikan diri dari dosa dan bertambah kebaikan dengan ketaatan- akan tetapi keutamaan Allah dan rahmat-Nya mengharuskan ada di antara kalian yang dapat menyucikan diri dari dosa dan melakukan ketaatan. Dan diantara doa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam,

“Allaahumma aati nafsi taqwaaha, wazakkihaa, Anta khairu man zakkaahaa, Anta Waliyyuha wa Maulaaha.”

“Ya Allah anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwaku, dan bersihkanlah jiwaku, Engkau-lah sebaik-baik yang membersihkannya, Engkau-lah Penolong dan Penguasa jiwaku.” (HR. Muslim dari Zaid bin Arqom radhiyallahu’anhu) [Tafsir As-Sa’di, hal. 563]

Demikianlah, tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, hinga Nabi yang terbaik, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam pun selalu berdoa kepada-Nya agar diselamatkan dari perbuatan dosa dan ditolong dalam melakukan ketaatan.

Terlebih lagi, ketika hawa nafsu mendera dan setan telah bertekad bulat untuk menjerumuskan anak Adam ke dalam lembah nista, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang tekad setan tersebut,

“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [Al-A’rof: 16-17]

Sahabat yang Mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

• Makna ucapan setan “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan mereka”, adalah “Aku akan membuat mereka ragu dengan akhirat”.
• Makna “Dan dari belakang mereka”, adalah “Aku akan membuat mereka cinta dunia”.
• Makna “Dan dari kanan mereka”, adalah “Aku buat samar (syubhat) dalam perkara agama mereka”.
• Makna “Dan dari kiri mereka”, adalah “Aku buat mereka senang bermaksiat”.
[Tafsir Ibnu Katsir, 3/394]

Al-Imam Qotadah rahimahullah berkata,

 

“Wahai anak Adam, setan mendatangimu dari segenap penjuru, akan tetapi ia tak mampu mendatangimu dari arah atasmu, karena ia tak mampu menghalangi antara dirimu dan rahmat Allah (maka berdoalah kepada Allah ta’ala).” [Ighatsatul Lahfan, 1/103]

Dan Allah ta’ala berfirman,

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Fushshilat: 36]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

 

“Maka tidak ada jalan selamat dari perangkap dan tipu daya setan kecuali dengan terus menerus meminta pertolongan kepada Allah ta’ala, berusaha menempuh sebab-sebab untuk meraih keridhoaan-Nya, bersandar hati hanya kepada-Nya, selalu tunduk kepada-Nya dalam segala kondisi dan merendahkan diri untuk menghamba kepada-Nya, yang merupakan sebaik-baik cara manusia untuk masuk dalam jaminan penjagaan dari setan dalam firman Allah ta’ala,

 

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (wahai setan) terhadap mereka”. (Al-Hijr: 42) [Ighatsatul Lahfan, 1/5]

Inilah yang harus kita lakukan wahai saudaraku, agar dapat melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala dan selamat dari maksiat hendaklah banyak-banyak berdoa kepada Allah ta’ala dan memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan setan, dan hendaklah ini yang pertama kita lakukan ketika terperangkap dalam godaan maksiat, perhatikanlah ucapan Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalaam pertama kali ketika beliau dijebak dalam perangkap maksiat,

“Dan wanita (istri Raja) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya), dan wanita itu telah menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah”.” [Yusuf: 23]

Jika para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalaam yang ilmunya mendalam, jiwanya begitu baik dan amalannya begitu hebat, tetap saja mereka selalu butuh pertolongan Allah jalla wa ‘ala, tentu kita yang sepatutnya lebih banyak berdoa kepada Allah ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya.

4.Bersahabat dengan Orang-orang Shalih dan Menjauhi Orang-orang yang Jelek

Allah ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman karibku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.” Dan setan itu adalah penipu manusia.” [Al-Furqon: 28-29]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang jelek, seperti berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi; tidak akan luput untukmu dari penjual minyak wangi, apakah engkau membeli minyak wangi tersebut atau engkau mencium harumnya, adapun berteman dengan pandai besi dapat membakar badanmu, atau pakaianmu, atau engkau mencium darinya aroma yang buruk.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiyallahu’anhu]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang akan ia jadikan teman dekatnya.” [HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 927]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Makna hadits ini, bahwa akan seperti apa agama dan akhlak seseorang, tergantung dengan siapa ia berteman, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman, jika ia berteman dengan orang yang baik maka ia akan menjadi baik, jika ia berteman dengan orang yang jelek maka ia akan menjadi jelek. Alhasil, hadits-hadits ini dan yang semisalnya, semua menunjukkan bahwa sepatutnya bagi seseorang untuk berteman dengan orang-orang yang terbaik, mengunjungi mereka dan mereka pun mengunjunginya, karena dalam hal itu ada kebaikan, dan Allah-lah yang memberikan taufiq.” [Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/246]

• Berteman dan bergaul dengan orang-orang shalih lebih dibutuhkan lagi ketika seseorang baru taubat atau ingin bertaubat, hendaklah ia meninggalkan lingkungan pergaulan dan teman-temannya yang biasa bermaksiat bersamanya, kemudian bergaul dengan orang-orang shalih; menuntut ilmu dan beribadah bersama mereka, sebagaimana wasiat seorang ulama kepada Pembunuh 100 nyawa yang pernah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

“Pergilah ke kampung ini dan itu, karena padanya ada orang-orang yang beribadah hanya kepada Allah maka beribadahlah engkau hanya kepada Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke kampungmu, karena itu adalah kampung yang buruk (karena dihuni oleh orang-orang yang buruk).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata

“Ulama berkata, dalam hadits ini terdapat anjuran bagi orang yang bertaubat untuk meninggalkan tempat-tempat yang padanya ia melakukan dosa dan berpisah dengan teman-teman yang selalu mendorongnya untuk berbuat dosa serta memutus hubungan dengan mereka apabila mereka terus bermaksiat, dan hendaklah ia mengganti persahabatannya dengan orang-orang yang baik, shalih, para ulama dan ahli ibadah yang menjaga diri dari maksiat, serta orang-orang yang ia dapat meneladani mereka, mengambil manfaat dari pertemanan dengan mereka dan dengan itu dapat menguatkan taubatnya.” [Syarhu Muslim, 17/83]

• Dalam hadits ini juga ada pelajaran yang sangat bernilai, bahwa untuk taat kepada Allah ta’ala dan menjauhi maksiat, demi meraih kenikmatan hakiki dan selamat dari azab, haruslah dengan PENGORBANAN dan PERJUANGAN. Tidak diragukan lagi, diantara bentuk pengorbanan dan perjuangan adalah berhijrah; meninggalkan teman-teman karib yang masih suka berbuat dosa.

• Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum adalah sebaik-baiknya teladan, ketika mereka rela berkorban dan berjuang meninggalkan kota suci Makkah yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kafir, menuju Madinah yang tidak lebih mulia dari Makkah, semua itu dalam rangka taat kepada Allah ta’ala; beribadah hanya kepada-Nya dan selamat dari kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan.

• Maka diantara sebab terbesar yang membantu seorang hamba untuk bertaubat dan mempertahankan serta menguatkan taubatnya adalah berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauhi teman-teman yang jelek atau lingkungan pergaulan yang buruk, karena hati manusia itu lemah, cepat atau lambat, sedikit atau banyak, dapat terpengaruh oleh lingkungan pergaulannya.

• Termasuk pertemanan dengan orang-orang yang tidak baik di media-media sosial hendaklah diwaspadai, jangan ragu untuk menasihati dan bila perlu memblokir teman-teman di media sosial yang dapat menjerumuskan Anda dalam dosa.

• Karena teman yang jelek hakikatnya adalah setan, yang selalu mengajak untuk melakukan dosa, baik mengajak dengan ucapannya maupun perbuatannya.

• Berapa banyak sudah orang baik yang terjerumus dalam dosa karena berteman dengan orang-orang yang suka berbuat dosa, apakah dosa syirik, bid’ah maupun maksiat.

• Maka kewajiban orang tua terhadap anak atau suami terhadap istri untuk memperhatikan dengan siapa anak dan istri mereka berteman.

• Bahkan tidak jarang, anak baik masuk pesantren bukan menjadi lebih baik malah rusak parah karena berteman dengan anak-anak nakal yang ‘dibuang’ orang tuanya ke pesantren, terlebih lagi ketika si anak kehilangan kontrol orang tuanya, sedang para pengasuh di pondok tidak sanggup mengontrol anak-anak dengan baik, karena mungkin jumlah santri terlalu banyak.

• Padahal di masa-masa seorang anak masih labil dan belum dewasa, peran orang tua sangat penting untuk memberikan pendidikan emosional, menunjukkan kasih sayang dan memperhatikan dengan siapa anak-anak mereka berteman dan terus mengawasi apa dampak dari pertemanan tersebut.

• Juga termasuk teman yang terjelek di masa ini yang perlu dijauhi dan diwaspadai adalah TELEVISI yang menayangkan siaran-siaran perusak iman dan takwa.

• Dan termasuk lingkungan pergaulan yang sangat jelek adalah lingkungan kerja atau sekolah yang bercampur antara laki-laki dan wanita, inilah diantara sebab terbesar terjadinya maksiat pacaran, perzinahan, perselingkuhan, pertengkaran suami istri, hingga retaknya rumah tangga.

• Bertemanlah dengan Saudaramu yang Sejati, Siapa Dia?

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

“Saudaramu adalah yang menasihatimu, mengingatkanmu serta menegurmu, dan bukanlah saudaramu yang tidak memperhatikanmu, berpaling darimu serta menjilatmu, akan tetapi saudaramu yang hakiki adalah yang selalu menasihatimu, memberi wejangan kepadamu, mengingatkanmu serta mengajakmu kepada Allah.” [Al-Fatawa, 14/21]

• Bersemangatlah dalam Mencari dan Menjaga Persahabatan dengan Orang yang Baik:

Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Bersemangatlah dalam berteman dengan orang-orang baik yang senantiasa membimbingmu apabila kamu menyimpang, memberi petunjuk kepadamu apabila kamu tersesat, mengingatkanmu apabila kamu lupa, dan mengajarkanmu apabila kamu belum tahu.” [Syarhul Bukhari, 1/62]

• Sahabat yang Terbaik adalah Ulama dan Penuntut Ilmu:

Al-Imam Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,

“Aku dapati kebaikan hatiku dalam bermajelis bersama para ulama.” [Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadlih, 1/221]

5.Jauhilah Sebab-sebab kemaksiatan

Allah ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.” [Al-An’aam: 151]

Allah ta’ala juga berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Isra: 32]

•Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Larangan mendekati perbuatan-perbuatan keji lebih menekan dari sekedar larangan melakukannya, karena sesungguhnya itu sudah mencakup larangan memasuki pintu-pintu pembukanya dan sarana-sarananya yang dapat mengantarkan kepadanya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 279]

•Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji”, Allah ta’ala tidak mengatakan, “Jangan kamu melakukan” (tetapi “Janganlah kamu mendekati”) karena larangan mendekati lebih menekan daripada larangan melakukan, sebab larangan mendekati sudah mencakup larangan melakukan maksiat dan larangan melakukan hal-hal yang dapat menjerumuskan kepadanya, oleh karena itu;

• Diharamkan bagi laki-laki melihat wanita non mahram,

• Diharamkan berdua-duaan antara laki-laki dan wanita,

• Diharamkan bagi wanita melakukan safar tanpa mahram.
Karena semua itu mendekatkan kepada perbuatan-perbuatan keji.” [Al-Qoulul Mufid, 1/38]

•Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Perhatikanlah firman Allah ta’ala, “Dan janganlah kamu mendekati”, Allah ta’ala tidak mengatakan, “Dan janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji”, tetapi Allah ta’ala mengatakan, “Dan janganlah kamu mendekati”, agar mencakup larangan melakukan sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kepada maksiat, maka Allah mengharamkan maksiat dan mengharamkan sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kepadanya. Sebagai contoh:

• Tabarruj seorang wanita termasuk yang mendekatkan kepada perbuatan-perbuatan yang keji; yaitu menjerumuskan kepada zina, karena menampakkan perhiasan dan membuka aurat adalah jalan kepada zina, dan Allah telah melarang untuk mendekati zina,

“Dan janganlah kamu mendekati zina.” (Al-Isra: 32)

Allah ta’ala tidak mengatakan, “Janganlah kamu melakukan zina”, tetapi “Janganlah kamu mendekati”, karena larangan mendekati lebih menekan daripada sekedar larangan melakukan, agar mencakup larangan melakukan sebab-sebab yang menjerumuskan kepadanya.

• Diharamkan untuk melihat kepada yang Allah haramkan –seperti melihat wanita non mahram-, karena melihat kepadanya adalah sebab yang menjerumuskan kepada zina.

• Diharamkan mendengarkan yang haram –seperti mendengarkan ucapan kegilaan, lagu-lagu dan alat-alat musik, karena itu semua adalah sarana-sarana yang mengantarkan kepada yang haram.

Maka firman Allah ta’ala, “Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji”, maknanya: Janganlah kamu melakukan sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kepada maksiat, tetapi jauhilah, apakah itu melihat dan mendengar yang haram, membuka aurat dan tabarruj, maupun selain itu dari berbagai sarana dan sebab yang dapat menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan keji.” [I’aanatul Mustafid, 1/34]

Demikianlah syari’at yang mulia dan istimewa ini telah melarang semua sarana dan menutup semua pintu yang dapat menjerumuskan kepada dosa dan maksiat, karena pencegahan lebih baik dari pengobatan.

Pencegahan terhadap maksiat lebih mudah daripada pengobatan terhadap hati dan jasad yang telah tertawan oleh dosa dan maksiat; tersandera oleh hawa nafsu dan terbelenggu jaring-jaring setan.

Diantara wasiat Ulama untuk Menjauhi Sebab-sebab Kemaksiatan:

• Tidak Keluar Rumah adalah Ibadah bagi Wanita, Agar Selamat dari Maksiat:

Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

“Tidaklah seorang wanita beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah yang melebihi ketakwaan kepada Allah dan diam di rumah.” [Tafsir As-Sam’ani, 4/279]

• Jangan Berduaan dengan Wanita yang Bukan Mahram, Walau untuk Mengajarkan Agama:

Al-Khalifah Ar-Rasyid Umar bin Abdul Aziz Berwasiat kepada Al-Imam Maimun bin Mihran rahimahumallah

“Sesungguhnya aku akan berwasiat kepadamu, maka jagalah wasiatku: Janganlah engkau berdua-duaan dengan seorang wanita yang bukan mahrammu, walau batinmu berkata bahwa engkau akan mengajarinya Al-Qur’an.” [Al-Hilyah, 5/272]

• Pentingnya Kejujuran dan Bahaya Kedustaan:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Jujur adalah kunci setiap kebaikan, sebagaimana dusta adalah kunci setiap kejelekan.” [Al-Istiqomah, 1/467]

• Tiga Pintu Ke Neraka, Jauhilah dan Jangan Dibuka…!

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباالعداون على خلقه

“Manusia masuk neraka dari tiga pintu:

1) Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah,

2) Pintu syahwat yang menyebabkan lebih mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya,

3) Pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

• Empat Sebab Kejelekan Akhlak yang Harus Diwaspadai:

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

Pondasi seluruh akhlak yang rendah dan bagunannya berdiri di atas empat rukun:

1) Kebodohan (terhadap ilmu agama)

2) Kezaliman

3) Hawa Nafsu

4) Kemarahan.

[Madaarijus Saalikin, 2/308]

6.Mengikuti Petunjuk dan Menyelisihi Hawa Nafsu•

Menuruti hawa nafsu yang selalu memerintahkan untuk berbuat dosa dan maksiat adalah sebab kesesatan dan penghalang hidayah, yang pada akhirnya akan menjerumuskan seseorang kepada syirik, bid’ah dan maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan hamba-Nya yang shalih Nabi Dawud ‘alaihissalaam,

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” [Shod: 26]

Dan Allah tabaraka wa ta’ala telah mencela para pengekor hawa nafsu yang merupakan sifat orang-orang kafir,

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu untuk mendatangkan kitab yang lebih memberi petunjuk dari Al-Qur’an), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Al-Qoshosh: 50]

Sebagaimana Allah ta’ala telah mengingatkan akan datangnya generasi pengganti yang jelek; yang menyia-nyiakan sholat dan selalu memperturutkan hawa nafsu,

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” [Maryam: 59-60]

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata tentang mereka,

“Mereka dalam umat ini hidup seperti binatang-binatang ternak dan keledai-keledai di jalan-jalan; tidak takut kepada Allah ta’ala yang di langit dan tidak malu kepada manusia di bumi.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/244]

Juga firman Allah ta’ala tentang sifat kaum musyrikin yang selalu memperturutkan hawa nafsu, tak ubahnya seperti binatang ternak,

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” [Muhammad: 12]

Maka memperturutkan hawa nafsu, tidak peduli dengan yang halal dan haram, tidak mengharap rahmat Allah dan tidak pula takut azab-Nya adalah sifat orang-orang kafir, sehingga nikmat dunia yang tidak seberapa ini bagi mereka adalah surga.

Adapun orang-orang yang beriman, senantiasa berusaha mengekang hawa nafsu, tidak memperturutkannya dalam perkara yang haram, baginya yang terpenting adalah menggapai keridhoaan Allah ta’ala dan selamat dari azab-Nya yang sangat pedih, walau terasa seperti hidup dalam penjara.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Dunia adalah penjara orang beriman dan surga orang kafir.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

“Surga itu diliputi dengan hal-hal yang dibenci hawa nafsu, dan neraka itu diliputi dengan hal-hal yang disenangi hawa nafsu.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dan ini lafaz Muslim]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,هِ

“Adapun tiga perkara yang membinasakan:

1) Kekikiran yang ditaati

2) Hawa nafsu yang dituruti

3) Kekaguman seseorang terhadap dirinya.

[HR. Ath-Thabarani dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jami’: 3045]

Dan termasuk menuruti hawa nafsu adalah menyalurkan kesukaan atau kecintaan dan kebencian atau kemarahan, dengan cara yang menyelisihi syari’at Allah ‘azza wa jalla. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sekedar cinta dan benci saja maka itu adalah hawa nafsu, akan tetapi yang diharamkan adalah menuruti kecintaan dan kebencian tanpa petunjuk dari Allah ta’ala, oleh karena itu Allah berfirman kepada Nabi-Nya Dawud, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat.” (Shod: 26). Maka Allah ta’ala mengabarkan bahwa siapa yang mengikuti hawa nafsunya, ia akan disesatkan dari jalan Allah, yaitu petuntuk yang dibawa oleh Rasul-Nya, yang merupakan jalan menuju kepada-Nya.” [Al-Istiqomah, 2/226]

Al-’Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu membutakan mata hati, sehingga seseorang tidak bisa membedakan antara sunnah dan bid’ah, atau malah ia membaliknya, ia menganggap bid’ah sebagai sunnah, dan sunnah sebagai bid’ah.” [Al-Fawaaid, 244]

Obatnya tidak lain adalah mengikuti petunjuk dari Allah ta’ala dan menyelisihi hawa nafsu. Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

“Hawa nafsu itu penyakit, dan obatnya adalah menyelisihinya.” [Raudhatul Muhibbin, 478]

Dan itu hanya dapat dilakukan dengan menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dengan penuh keyakinan dan kesabaran.

(www.sofyanruray.info)