Tags

, , , , ,

 

Saudaraku,

“Saat engkau mengingatkan saudaramu sesama Muslim, berikanlah caramu yang terbaik dalam meluruskan kesalahan atau menunjukkan kebenaran” (Khalid bin Sa’ud Al Baulaihid)

Menasihati diri dan orang lain dengan Al Qur’an dan sunnah, mengunduh petuah tulus dari orang tua, mengambil pengingat dari yang berilmu dan mengerti, dan saling berbagi peringatan dari kehidupan sesama, adalah peta-peta dasar.

Pada semua jenis pengingat itu, ujiannya ada di diri kita sendiri. Sejauh mana kita rela memberikan jiwa kita secara pantas kepada sumber pengingat dan nasehat itu. Masing-masing ada kepatutannya. Masing-masing ada kecukupannya.

Dalam menegur kesalahan saudara kita sesama muslim lakukanlah dengan santun.Ucapan yang bijak dan cara yang baik ketika hendak menegur kesalahan orang lain, yaitu dengan selalu terlebih dahulu menyebutkan sisi-sisi baik yang dimiliki oleh orang yang hendak kita tegur kesalahannya,kemudian baru menegur kesalahannya dengan halus, dengan begitu kita telah berbuat adil terhadap orang itu, niscaya mereka dengan mudah menerima nasehat kita.

Ini diibaratkan ketika kita diberikan sebuah tongkat, agar tongkat yang diberikan ke tangan kita seimbang, maka peganglah bagian tengahnya nicaya tongkat akan stabil dan seimbang dikedua sisinya. Begitu juga dengan metode menyikapi kesalahan orang lain, yaitu sikapi dengan adil dan seimbang. Maka dengan dengan meyebutkan sisi-sisi kebenaran yang ada padanya terlebih dahulu sebelum menegur kesalahannya artinya kita tetap membuat ia merasa bahwa ia dimata kita tetap orang yang baik, dan ketika kita menyebut kesalahannya ia tidak merasa harga dirinya jatuh dihadapan kita, dan tidak membuat ia tersinggung malahan dengan
kesadaran sendiri ia mengakui kesalahan yang ia perbuat.

Maka, jadilah kita orang-orang yang meluruskan pemahaman yang salah, tanpa membuat orang yang kita tegur merasa bodoh. Dan jadikanlah perkataan-perkataan yang kita lontarkan seolah-olah tidak menyinggung kesalahnnya sedikitpun dan lebih banyak menyebut kabaikan-kabaikannya. Maka dengan ini kita telah menyikapi kesalahan orang lain dengan indah dan menawan, niscaya ia dengan sendirinya membuang kejelekan-kejelakan yang ada pada dirinya.

Salam santun

Saudaramu,

Ahmad Bin Ismail Khan